Seminar Nasional Penguatan Ideologi Pancasila Bersama Mendagri dan Menteri Agama

Date : 2017-Nov-20

Senin, 20 November 2017, wilayah Jatinangor Sumedang dikunjungi oleh dua orang menteri yang terdiri dari Bapak Lukman Hakim Saifuddin selaku Menteri Agama dan salah satu perwakilan dari Menteri Dalam Negri. Acara yang berlangsung selama dua hari ini diadakan di Hotel Khatulistiwa, jatinangor. Universitas Islam Negri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung menjadi tuan rumah dalam acara tersebut dikarenakan bertepatan dengan peresmian ‘Pusat Studi Islam dan Pancasila’ (PSIP). Perhelatan Seminar tingkat nasional ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh Paduan Suara UIN Sunan Gunung Djati yang diikuti oleh seluruh peserta yang hadir. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Qur;an serta kata sambutan yang terdiri dari Rektor UIN, Petinggi Perguruan Tinggi Keagamaan baik negri maupun swasta dan juga Menteri Agama.

Dalam sambutannya, Menteri Agama menjelaskan secara tegas dan terperinci mengenai sudut pandang Ideologi Pancasila dan Ajaran Agama Islam. Menteri yang lahir pada 25 November 1962 ini menghimbau bahwa jangan ada lagi pemikiran-pemikiran yang membuat seolah-olah Pancasila tidak “Islami” karena akan menciderai keharmonisan kehidupan warga negara Indonesia yang sangat majemuk. Idologi Pancasila yang pada zaman penjajahan dulu dianggap pemikiran final, kini sudah mulai terdapat perubahan seiring cara berfikir masyarakat Indonesia yang semakin kritis. Hal tersebut bisa saja diakibatkan teknologi informasi yang semakin deras sehingga mampu merubah sudut pandang dan paradigma generasi yang ada saat ini. Namun demikian, pemahaman dan proses pemaknaan ajaran Islam pun secara tidak disadari mengalami perubahan dengan sikap kritis tersebut.

Negara Indonesia yang didominasi oleh penganut agama Islam akan sangat mewarnai pemahaman dari Pancasila itu sendiri. Jika ditelaah dari sejarah sebelum Indonesia merdeka, bahkan saat masih terpisah menjadi banyak kerajaan, masyarakatnya saat itu sangat menjunjung tinggi religiusitas. Artinya walapun terdapat kemajemukan, akan tetapi masyarakatnya saat itu memiliki keterikatan emonional dengan kehidupan beragama. Hal ini tentu menjadi petunjuk bahwa Pancasila sebenarnya lahir di lingkungan masyarakat yang religius. Dengan kemajemukan yang tinggi yang ada di Indoneisa, dibutuhkan Ideologi untuk “merajut dan mengikat” segala perbedaan keyakinan yang ada. Maka dari itulah, banyak kalangan yang melihat bahwa Ideologi Pancasila merupakan hasil pemikiran yang luar biasa karena disusun atas dasar pertimbangan agama, termasuk dan khususnya agama Islam.

 

Untuk pihak STIBANKS Al Masoem sendiri, acara ini menjadi momentum penting dikarenakan STIBANKS berada di bawah naungan KOPERTAIS dan diundang untuk menandatangani nota kesepahaman antara lembaga pendidikan tinggi dengan Menteri Dalam Negri (Mendagri). Nota kesepahaman tersebut ditandatangani oleh masing-masing pimpinan perguruan tinggi, mulai dari Rektor, Kepala dan Direktur sebagai bukti bahwa lembaga yang mereka pimpin memiliki pemahaman yang sama mengenai ideologi Pancasila dan Ajaran Islam dalam konteks konstitusi. Dengan adanya seminar tingkat nasional ini diharapkan seluruh perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi keislaman memiliki visi yang sama sehingga mampu berkontribusi dalam persatuan dan kesatuan negara Indonesia. Selain itu, momentum peresmian PSIP menjadi sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang saat ini membutuhkan pemahaman yang komprehensif dan akan menjadi isu yang dibahas oleh banyak kalangan.

 

Alamat

Alamat Kontak
STIBANKS AL MASOEM
Yayasan Al Ma`soem Bandung
Jl. Raya Cileunyi Rancaekek No. 22
Jatinangor – Sumedang
Telp. (022) 7798204 – 7798340 - 08112139222
website: www.stibanks.com
email: info@stibanks.com

 

STIBANKS Group
Copyright © 2017 AL MA'SOEM